NOStagia

Di akhir tahun ajaran ini memang lebih enak kalau dipakai untuk sedikit bernostagia. Zer0 pernah mengajar beberapa jam pelajaran di suatu SD. Di Indonesia SD merupakan kali pertama seorang anak mengenal matematika secara formal. Pada saat ini mulai diajarkan bagaimana cara berhitung. Mengenalkan operasi aritmatika, kali, bagi, tambah, dan kurang. Lebih sulit mengenalkan arti pembagian pada anak-anak seusia itu, karena pembagian tidak harus tidak meninggalkan sisa, dibandingkan dengan operasi lainnya. Namun kita juga harus berhati-hati dengan operasi pengurangan. Jika kita menerapkan operasi pengurangan pada kehidupan sehari-hari, kita harus mempertimbangkan bilangan negatif yang untuk anak SD secara umum masih sulit dimengerti. Kebanyakan seorang pengajar memulai dengan contoh seperti,

“Jika dalam ruangan ada 5 orang lalu keluar 3 orang, berapa banyaknya orang yang masih ada dalam ruangan itu?”

Dengan penuh semangat anak-anak itu mungkin akan menjawab, “DUA!”

Tapi, bagaimana kalau masalahnya seperti ini,

“Jika dalam suatu ruangan ada 3 orang, lalu keluar 5, dan beberapa saat kemudian masuk lagi 2 orang, maka sekarang tidak ada siapa-siapa di ruangan itu.”
Sekarang kita mungkin akan menyeringai mendengar pernyataan itu, tapi pernyataan itu jelas merupakan masalah bagi anak SD. Namun, kadang-kadang juga kita salah membuat analogi, seperti tampak pada contoh berikut,

“Jika dalam akuarium terdapat lima ikan, lalu tiba-tiba dua ikan mati. Berapa banyaknya ikan dalam akuarium itu sekarang?”

Jika kita menganalogikan mati sebagai operasi pengurangan maka kita akan sampai pada kesimpulan bahwa banyaknya ikan dalam akuarium sekarang ada tiga. Tapi, kenyataannya adalah banyaknya ikan dalam akuarium tetap 5; dua ikan yang mati masih mengapung di permuakaan. Dari sini Zer0 menyimpulkan bahwa mengajar anak SD lebih merupakan tantangan psikologis daripada tantangan intelegensiašŸ˜€

Zer0 memilih mengajar anak SD, dan waktu itu dia mengajarkan sesuatu tentang pembagian yang diinterpretasikan sebagai pecahan yang merupakan bagian dari keseluruhan.

mengajar di depan

Siswa yang maju itu tidak percaya bahwa segitiga yang ditunjukkan pria kurus berbaju biru itu adalah seperenam dari bidang segi enam beraturan yang ditempel di papan tulis, sehingga ia ke depan untuk membuktikannya. Tapi siswi paling kiri dari sudut pandang ini melihat sesuatu yang lebih menarik dari segitga polos itu, mungkin ayam yang sedang menyeberang.

Sayangnya, masih banyak sekolah dasar dengan fasilitas yang sangat memprihatinkan; mulai dari buku pegangan gratis yang tersedia di perpustakaan, sampai gedungnya sendiri sebagai tempat untuk belajar. Inilah yang menarik, meskipun keadaannya demikian, anak-anak itu tetap semangat belajar, terlebih belajar bersosialisasi.

anak-anak

(ups.. watch out d middle finger) Matematika sendiri masih dianggap sebagai suatu monster. Bagimanapun tidak semua monster menakutkan, monster yang ini menyenangkan šŸ˜‰

Secara umum kegiatan belajar pada waktu itu menyenangkan dan pada suatu saat bocah seperti Gauss banyak ditemui di sekolah-sekolah dasar di Indonesia, menggantikan kisah Gauss muda tentang menjumlahkan bilangan bulat dari 1 sampai 100, sebutlah. Seperti dengan mudah menyelesaikan masalah seperti ini:

229 mengandung sembilan dijit satuan berbeda. Bilangan manakah yang tidak ada?

Satu pemikiran pada “NOStagia

  1. Ping balik: Hari Saraswati « from zer0 to infinity

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s